Halaman Perjalanan Hidup di blog ini berisi kisah-kisah hidup yang kadang membuat saya tersenyum geli, sedih, bangga, haru, benci, senang, dan pokoknya rasa nano-nano deh jika mengingatnya, hehe. Tanpa mengurangi esensi, sengaja ditampilkan dalam format cerita singkat dan padat agar ringan dibaca. Selamat menikmati!
1. Kere
Jogja, sekitar tahun 2008. Satu saat, saya benar-benar nggak punya uang sepeser pun. Hubungan finansial dengan orang tua juga sudah lama putus. Yang tersisa dan bisa “disekolahkan” hanya kamera merk Kodak yang dulu kubeli seharga Rp. 1 juta. Akhirnya pergilah saya ke Pegadaian Cabang Demangan, belakang Univ. Atmajaya. “Siang Mas, ada yang bisa dibantu”, kira-kira begitu salam pembuka petugas ramah. “Saya mau gadaikan kamera mas”, balasku. “Coba saya lihat kameranya,….ehmm, mas mohon maaf kamera yang bisa digadaikan hanya yang berspesifikasi minimal 7 mega pixel, sedangkan kamera Kodak punya mas cuma 6mega pixel”, tegas petugas itu. “…oh, gitu ya mas, baiklah”, ujarku dengan lemas. Namun waktu menjawabnya, tak lama setelah itu, kamera akhirnya berpindah pemilik dengan harga Rp. 500ribu, kepada seorang rekanku. Buntut.
2. Persahabatan Guru – Murid
Maunya nyalain petasan tikus yang nggak bunyi doorr tapi cuma berlarian ke lantai mirip kembang api. Ternyata merconnya meledak juga. DORRR. Para guru MTsN I Banyuwangi yang kebetulan sedang diruangan kantor akhirnya mendatangi kelas dan membawa saya ke ruangan khusus, perasaan udah takut nggak karuan. Bayangan hukuman sudah menghantui pikiran. Tapi perkiraan sidang yang mengerikan ternyata berubah guyonan dan menjadi satu awal “persahabatan” guru dan murid. Beliau bernama Yusuf Heri Pranowo, pemain bass sebuah grup band cukup ternama di Kediri kala itu. Beliau yang pertama kali mengajari saya bermain gitar. Pulang sekolah biasanya kami berboncengan dengan sepeda BMX. Sering pula malam kuhabiskan bersama beliau di kosnya sambil belajar gitar. Salam hormat saya Pak!
3. Pertamakali Naik Pesawat
Malam itu terpaksa saya habiskan menginap di Bandara Militer Banda Aceh. Bukan karena delay, tapi karena antrian penumpang yang terdiri dari pengungsi Tsunami yang hendak keluar dari Aceh; relawan yang pulang ke kampung halaman; dan aparat militer yang pulang dari misi. Setelah menginap satu malam, esok harinya, rombongan saya terpaksa dipecah dua karena keterbatasan kapasitas pesawat. Begitu masuk badan pesawat, perasaan deg-degan langsung menghantui. Bagaimana tidak, isi pesawat penuh dengan tas, pengungsi dan relawan yang duduk berserakan di lantai pesawat dengan kaki ditekuk. Menandakan ruang yang tersedia dengan jumlah penumpang tak lagi ideal. Saya langsung mengambil posisi duduk di samping tumpukan tas. Hanya pasrah yang bisa saya lakukan, dari pada harus mengulang perjalanan darat 5 hari seperti saat keberangkatan tim relawan ke Aceh itu. Begitu pesawat take off, semuanya tampak oke, hingga beberapa puluh menit kemudian pesawat rasanya berayun naik turun. Sial, bikin sport jantung aja pikirku. Selain itu, sepanjang perjalanan hampir seluruh penumpang kedinginan. Ternyata pengatur suhunya nggak bisa dikecilkan. Praktis, penerbangan 4 jam itu kami habiskan dengan degup jantung dan keringat dingin. Brrr…
4. Menjadi “whistle blower”
Satu mata kuliah ujian yang menjadi momok mahasiswa Magister Kenotariatan: hukum waris islam. Rumus-rumus yang mesti dihafal dan dipahami, serta ketelitian menghitung nominal harta warisan menjadi satu prasyarat mutlak agar lulus ujian dengan nilai memuaskan. Ujian kali itu sudah saya persiapkan dengan matang. Latihan soal, diskusi dengan teman-teman dan belajar jauh-jauh hari sudah saya lakukan. Lagi enak-enaknya ngerjain soal, nggak taunya, teman sebelah, bendahara kelasku nyontek, mana saya ketua kelasnya lagi! Segulung kertas kecil berisi rumus-rumus dengan besar font 8 berjenis times new roman menjadikannya ringkas diselipkan dibawah soal untuk diintip ketika mengerjakan soal. Enak aja, kita mati-matian belajar, dia main contek seenaknya aja. Mendidih saya saat itu. Sontak, “Pak, Si X mencontek Pak, itu ada lembar bekal contekan di bawah soal”, tegasku pada dosen penjaga. Tapi, alih-alih disita dan dikeluarkan dari ruangan, malah dosen itu yang membentak saya agar diam. Saya marah dan akhirnya memilih walk out meninggalkan beberapa soal yang belum terjawab. Pulang ke kantor, langsung saya bikin somasi kepada Ketua Jurusan, Dekan, dan Pusat Kajian Anti Korupsi FH UGM. Alhamdulillah, kabarnya, mahasiswi itu diskors. Meski nilai saya hanya C, setidaknya saya lega melakukannya karena kecurangan dan pelacuran akademik demikian tidak dapat ditolerir. Mau jadi apa dia kelak..
5. Bayaran Pertama Pembicara
Petang itu, ketika sedang stand by di Kantor Indonesian Court Monitoring (ICM), Mas Hasrul Halili, Dosen FH UGM yang juga kepala salah satu divisi di ICM menelpon saya. “Dik, kamu besok pagi ngisi seminar di Magelang mau nggak?”, pintanya padaku. “Oke mas”, jawabku tanpa pikir panjang. Saya pikir ini kesempatan emas untuk belajar bagi staf baru seperti saya, apalagi menggantikan nama besar Direktur ICM-PuKAT Korupsi FH UGM Denny Indrayana jelas peluang seribu satu. Pendek kata, karena ngebut, malam itu makalah 8 halaman jadi. Dan paginya, presentasi diskusi tentang mafia peradilan yang diinisiasi LBH Semarang dan SeTAM itu berjalan sangat lancar. Tiba waktu pulang, panitia memintaku tandatangan dan memberikan satu amplop. Saya buka, Rp. 500ribu. Alhamdulillah, senangnya…Mangan-mangan.
6. Berangkat Ke Aceh
Handphone butut saya berdering. “le, nggak berangkat ke Aceh?”, Tanya bapak pasca bencana Tsunami melanda tanah rencong. “Belum tau pak, masih ujian soalnya”, jawabku. Tak lama berselang, Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Solo membuka pendaftaran relawan yang bersifat terbuka untuk masyarakat Solo. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini bersama 14 anggota Gopala Valentara lainnya. Serangkaian tes kesehatan dijalani. Yang jelas, beberapa kali jarum suntik agak besar menerobos kulit. Sakit sekali rasanya. Belum lagi trauma saya terhadap jarum. Selang beberapa hari kemudian pengumuman mengejutkan datang. Ternyata dari 14 orang Anggota Gopala Valentara yang mendaftar, hanya saya yang dinyatakan lolos dan berhak berangkat. Saya tidak tahu persis mengapa. Prediksi sih karena tidak merokok. Mungkin itulah yang menyebabkan hasil cek darah di labolatorium cukup baik. Syukur Alhamdulillah.
Bersambung (sedang ditulis)…







ada yg bisa bantu n punya no tlp komisi perlindungan anak n permpuan,jika ada mohon disms ke no 087832628844…trms ats bantuannya…(urgent)
bisa dicek di websitenya mas